Verbatim National Talkshow: “Menelaah Aspek Hukum, Sosial, dan Ekonomi Fenomena Gojek, Modernisasi Transportasi v. Tradisi?”

Kamis, 17 September 2015 | 13.00-16.00 WIB | Auditorium Fakultas Hukum UI

Moderator: Adakah hukum positif di Indonesia yang memayungi keberadaan Gojek dan Ojek pangkalan? Kalau tidak ada, apakah perlu dibuat aturan terkait itu?

Ir. Ellen S.W. Tangkudung: Jadi harus ada aturan mengenai ojek karena sudah sedemikain banyak pertumbuhannya yang tidak terkendali dan angkutan umum yang diatur oleh UU ternyata menjadi kalah pertumbuhannya. Kemudian pelangaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pengguna sepeda motor. Kita tidak bisa menampik bahwa banyak sekali sepeda motor yang berlawanan arah dan tidak ada solusi terhadap itu. Kalau seperti itu, yang rawan bukan saja sepeda motor, tapi juga pihak pengguna jalan lainnya.


Satu lagi yang perlu diatur adalah adanya aplikasi. Aplikasinya mungkin tidak diatur, tapi aplikasi sudah berbayar itu mungkin harus diatur juga karena Indonesia ini menerapkan aturan-aturan pajak, sehingga suatu perusahaan yang mendapatkan uang dari masyarakat seharusnya taat kepada kantor pajak. Yang terakhir adalah jika ojek ingin diatur menjadi angkutan umum. Ada satu hal yang harus kita akui bahwa angkutan umum saat ini belum memadai dan belum bisa dijadikan andalan, dan banyak yang memilih untuk naik sepeda motor daripada naik angkutan umum, apalagi dengan adanya promo oleh sepeda motor. Maka yang harus dilakukan Pemerintah adalah menyatakan sikapnya mengenai adanya ojek dan GoJek. Hal ini mengingat ojek sudah ada sejak dahulu namun tidak diatur dalam UU. Oleh karena sampai sekarang Pemerintah tidak menyatakan sikapnya maka pertumbuhan ojek menjadi tidak terkendali seperti ini.
Menurut saya, bisa concern diatur mengenai ojek. Itu bisa diatur yaitu ojek tetap beroperasi menjadi angkutan akalan atau angkutan transisi sebelum pemerintah mampu menyediakan angkutan umum yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Seperti di Cina, dahulu Cina merupakan negara yang sangat dipenuhi sepeda motor. Namun sekarang Pemerintah mereka melakukan larangan terhadap penggunaan sepeda motor karena Pemerintahnya sudah menyediakan sarana prsarana angkutan umum yang sangat baik. Sehingga saat ini hanya tinggal 1 jenis sepeda motor yang beroperasi di Cina, yaitu sepeda motor listrik yang kecepatannya sangat rendah.
Lalu apabila ojek diberlakukan sebagai angkutan umum di Indonesia, maka terdapat ketentuan-ketentuan yang harus diberlakukan pula terhadap pengemudi maupun penumpangnya, misalnya dengan mengikuti ketentuan SIM umum, kendaraan sepeda motornya juga harus layak jalan, keamaan penumpang juga harus diperhatikan, penumpang juga harus disosialisasikan cara duduk yang benar untuk keselamatannya, dibatasi jarak tempuhnya karena berdasarkan penelitian jarak tempuh merupakan salah satu penyebab kecelakaan, adanya jaminan asuransi, dan harus menaati aturan-aturan yang berlaku seperti rambu lalu-lintas dan sebagainya.
Jadi kalau pun ini harus diatur, menurut saya yang dilakukan bukanlah merubah undang-undang tetapi menjadikan ojek sebagai transportasi trasisi hingga Pemerintah mampu menyediakan angkutan umum yang baik secara sistemik dan keseluruhan.

Moderator: Mengenai pengaruh ojek dan GoJek terhadap persaingan usaha. Bagaimana suatu usaha disebut berada dalam persaingan yang sehat dan faktor apa saja yang dapat merusak persaingan usaha yang sehat?

Ditha Wiradiputra, S.H., M.E: Dalam suatu bisnis, perlu ada penyesuaian-penyesuain. Di UI ini dulu pernah ada penyedia jasa internet. Pertama kali dia membuat warnet, yang dia lakukan adalah menggratiskan layanannya selama seminggu. Jadi mahasiswa antri selama 24 jam supaya bisa menggunakan internet karena internet merupakan barang mewah pada saat itu. Akibatnya, semua layanan internet disekitarnya menjadi hilang atau mati. Tapi untung saja, selesai masa promosinya maka persaingan usaha menjadi jalan kembali. Biasanya memang sebagai pemain baru, suatu usaha akan memberikan insentif-insentif tertentu.
Fenomena GoJek tidak jauh berbeda dengan fenomena minimarket. Ketika pertama kali hadir, banyak complain dari pemilik warung dengan adanya minimarket karena konsumen ternyata lebih suka dengan minimarket, sehingga warung-warung banyak yang bangkrut dan mati usahanya. Pemerintah tidak tinggal diam, akhirnya diatur mengenai minimarket agar semua pemilik usaha bisa hidup. Karena kalau tidak diatur, yang nanti hidup adalah pemilik usaha yang mempunyai modal yang sangat besar, yang mempunyai kemampuan yang sangat besar, sedangkan yang lainnya mati. Konsumen memang diuntungkan, namun Pemerintah tidak boleh hanya melihat dari sisi konsumen saja karena tidak akan efektif.
Kembali kepada ojek, saya pribadi bisa memahami bahwa masing-masing angkutan mempunyai wilayahn. Seperti angkutan umum, kalau ada yang keluar dari trayeknya masing-masing bisa ribut supirnya karena sudah diatur trayek masing-masing. Begitu pula ojek, perlu ada hal yang demikian.
GoJek sangat fenomenal ya, karena meningkatkan penghasilan sampai 2-3 kali. Tapi yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya ketika teman-teman GoJek mendapatkan keuntungan tetapi tidak merugikan orang lain agar semuanya bisa jalan. Hal itu yang perlu diatur.
Selain itu tentu ada aturan-aturan tidak tertulis yang harus dipatuhi. Seperti kita lihat bahwa yang berjualan di sekitaran UI adalah orang yang itu itu saja. Bukan karena orang lain tidak mampu menjual hal yang sama, namun hal ini dikarenakan penjual lain menghargai penjual yang sudah lebih dahulu ada. Seandainya ada 10 yang berjualan siomay, konsumen memang merasa senang karena banyak pilihan, namun belum tentu semua penjualnya akan mendapat keuntungan, sehingga hal inilah yang perlu diatur pula.
Undang-undang lalu lintas kita memang belum mengatur mengenai ojek karena sepeda motor bukan merupakan angkutan umum. Tetapi memperhatikan kondisi yang sekarang, ini harus ada pengaturan dan tidak boleh di diamkan. Sama ketika minimarket/hypermarket diatur untuk jauh dari pasar tradisional. Maka tidak ada salahnya mengatur ojek juga. Namun yang menjadi masalah adalah Pemerintah suka sibuk sendiri dan membiarkan masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan dengan caranya sendiri. Pemerintah harus segera mengantisipasi permasalahan ini sebelum timbul dampak yang tidak baik seperti kerusuhan dan sebagainya. Demikian kalau dari aspek pengaturannya.
Kalau dari aspek persaingan usahanya, ini bisa dipermasalahkan. Misalkan apabila promo GoJek menyebabkan kerugian kepada ojek. Hal ini dapat dianggap sebagai predatory pricing, karena Nadiem Makarim sendiri mengakui bahwa pihak GoJeklah yang mensubsidi para drivernya. Apabila tujuan promosi hanya untuk memperkenalkan GoJek maka boleh-boleh saja, tetapi apabila tujuan promo adalah untuk mematikan pelaku usaha lain maka bisa menjadi persoalan hukum.

Moderator: Bagaimana cara untuk menentukan sudah terjadi atau belum predatory pricing?
Ditha Wiradiputra, S.H., M.E: Untuk membuktikan terjadinya predatory pricing, maka perlu dihitung apakah tarif GoJek berada dibawah biaya operasionalnya atau tidak. Tetapi yang repot adalah, ojek tidak mempunyai tarif yang standart. Demikian kalau dari aspek persaingan usahanya.

Bapak Mulyadi: Bahwa mereka menerapkan harga yang bapak bilang tadi, predatory pricing itu. Ya kan? Nah kami tidak akan bisa bersaing dengan itu. Jangankan untuk makan, untuk bensin aja gak cukup kalau kemana-mana 10 ribu. Sekali lagi kami katakan gojek ini berkebalikan dengan ojek konvensional. Kalau ojek konvensional itu lebih mendahulukan etika ketimbang bisnis, tapi gojek lebih mendahulukan bisnis ketimbang etika. Begitu.
Lalu perlu saya jelaskan disini masalah etika tadi ya pak. Dimana-mana ojek pangkalan nggak pernah ambil sembarangan. Tapi gojek tidak, kadang-kadangyang di pangkalan juga diambil sama dia jadi kami yang lama nunggu nggak dapat apa-apa

Ir. Ellen S.W. Tangkudung: Ya beri tepuk tangan dulu kepada Pak Mul. Menarik ya berbicara tentang etika tadi ya. Seperti di FHUI ya pak saya kalau naik ojek disini ada oper-operan tuh. Tapi isu yang berkembang di sosial media terutama di mahasiswa UI beberapa waktu lalu ada isu miring terkait ojek konvensional. Terutama masalah kekerasan yang dilakukan di depan FISIP. Apakah itu benar atau tidak? Apakah memang itu diorganisir atau itu oknum? Mungkin Pak Mulyadi bisa menjelaskan apakah itu benar atau tidak?

Bapak Mulyadi: Jadi begini. Saat awal kedatangan gojek kami memang agak sedikit kaget ya. Dan juga tentunya cara kita untuk memberikan suatu perhatian terhadap gojek itu beda. Barangkali tensi di lapangan itu lebih tinggi ketimbang disini. Kalau di lapangan itu mereka juga sulit kita kontrol tapi kemudian masuk ke media sosial dan kalau menurut saya itu hanya dibesar-besarkan saja. Barangkali ada orang yang lebih pro ke gojek atau memang itu salah satu politik dari gojek untuk mematikan persaingan, barangkali seperti itu.
Kemudian kalau dibilang kita tadi, apa tadi kekerasan? Sebenarnya kita sudah mencarikan solusi agar tidak terjadi kekerasan seperti apa yang kita lakukan. Akhir-akhir ini kita sudah melakukan itu, contohnya kami sudah bertemu dengan supervisor dari gojek. Kita duduk bareng kita bicara bagaimana mencari solusi supaya tidak terjadi kekerasan seperti itu dan beliau menawarkan apabila ada gojek yang masuk yang memang di lingkungan kita disini, ya tolong jangan dikerasin, sita saja atributnya. Itu sudah kita lakukan.
Pertama kita menyita helmnya pak, tapi ternyata nggak diambil. Akhirnya karena kita merasa kurang puas, maka kita coba untuk menahan hp nya. Kalau itu nggak mungkin nggak diambil karena itu alat kerja mereka. Lalu datang saat itu satgas dari gojek, itu dari brimob pak satgasnya. Kemudian kita duduk bareng mencari solusi agar tidak terjadi lagi kekerasan. Dengan kesepakatan kami mencoba membuat perjanjian. Jadi apabila ada gojek yang masuk ke wilayah kami, kami akan menahan sementara baik atribut dan hp. Itu sudah beberapa kali kami jalankan sehingga tidak lagi terjadi kekerasan. Seperti itu pak

Moderator: Kasi tepuk tangan dulu dong untuk Pak Mul. Jadi memang etika itu penting untuk dijalankan ya pak. Untuk penyelesaian masalah juga perlu ada omong-omongan lah terkait hal itu. Mungkin sekarang kita berganti lagi ke Bu Ellen. Tadi setelah mendengarkan pendapat dari Pak Mul dan juga Bang Ditha. Saran dari ibu terkait transportasi umum di Jakarta ini bagaimana sih bu sebaiknya?

Ir. Ellen S.W. Tangkudung: Baik terima kasih. Tadi telah disampaikan saran dari dinas transportasi kota Jakarta. Kami sendiri sudah membuat pendapat berdasarkan berbagai telaah ahli. Jadi ini bukan pendapat pribadi. Seperti yang saya sampaikan kalau tadi kita mendengarkan bahwa ada persaingan, bahwa ada kekerasan dsb. Itu kan efek dari suatu bisnis yang dijalankan yang ternyata memang mengakibatkan bisnis lainnya menjadi terganggu. Kalau saya melihat lebih ke awalnya lagi, yang mengatakan bahwa angkutan sepeda motor ini baik konvensional maupun gojek dan grabbike dsb, menjadi solusi transportasi yang dapat menggantikan angkutan umum konvensional lainnya. Ada mahasiswa saya yang saat ini sedang meneliti daerah Depok, saya lupa di wilayah apa, ada angkutan umum kecil angkot yang memang sudah sangat sedikit penumpangnya. Berdasarkan data, sudah mendapatkan informasi dari pengemudi, penumpangnya dsb. Mereka bilang angkutan umum itu sekarang mahal dan yang paling nyaman sekarang itu ojek online dalam hal ini gojek dan grabbike. Padahal angkutan umum yang ada itu harus mengikuti peraturan, ada trayeknya, ada pajaknya, ada plat kuningnya, dsb. Memang banyak yang tidak mengikuti peraturan juga tapi mereka bisa dihukum, karena mereka ada peraturan. Kalau ojek dsb itu sulit karena siapapun bisa menjadi driver ojek maupun gojek dan tidak ada aturan apapun yang mengatur itu bahkan pengaturan SIM-nya. Bahkan saya pernah menemukan sendiri di daerah Kalibata itu ada driver gojek yang tidak ada SIM-nya. Dia sendiri yang bilang saya aja nggak ada SIM bisa kok bu. Betul saya ketemu dengan orang itu di Kalibata. Saya nggak tahu ya apakah benar bisa seperti itu.
Fenomena ini kalau dikatakan antara ojek vs gojek, kalau saya lihat lagi ini memang sudah berdampak luas. Kalau melihat di daerah lain, saya pernah melakukan kajian untuk Pulau Bangka, itu semua angkutan umumnya sudah nol. Siapa yang mengalahkan? Ya ojek, kalau disana belum ada gojek kan ya? Maksudnya angkutan umum sepeda motor. Dan pemerintah pun tidak pernah mengatakan apa-apa. Tidak salah juga kalau pemerintah tidak melakukan apa-apa, sehingga ojek pun menjadi tidak salah karena itu jelas alternatif transportasi. Berbeda dengan kampus UI karena toh UI pun sudah menyediakan angkutan umum bis kuning itu, tapi memang masih kurang, buktinya ojek masih dibutuhkan. Kalau kemudian ada tindakan-tindakan tertentu terhadap gojek ya saya tidak tahu, karena kampus UI pun tidak mengatur itu. Hanya menyediakan angkutan umum bis kuning, kalau diluar itu ya kembali menjadi pilihan orang. Kalau kemudian pilihan orang adalah angkutan umum berbasis aplikasi seperti gojek ya itu pilihan. Kalau kemudian ada kesepakatan antara ojek dan gojek di lingkup kampus UI ya itu kesepakatan antara bapak Mulyadi dan teman-teman namun itu bukan kesepakatan terhadap hukum, menurut saya seperti itu.

Moderator: Ya kasi tepuk tangan dong buat Ibu Ellen. Menarik ya pak kalau kita bahas masalah angkutan umum di UI ini pak yang ternyata tidak hanya di tingkat UI sudah menyediakan bis kuning. Lalu sebenarnya saya ingin sedikit bertanya dan mendalami masalah gojek, terutama masalah interview dan cara daftar gojek. Mungkin teman-teman dari driver gojek ada yang mau bercerita. Sedikit bercerita tadi pagi saya bayar angsuran mobil, itu sebelahnya ramai banget gojek mendaftar gitu sudah 4-5 bulan, pun di daerah Blok M ramai sekali. Sebenarnya kenapa sih bisa ramai begitu, bagaimana cara daftarnya, dan apa perbedaan antara gojek dan ojek konvensional. Mungkin teman-teman dari gojek ada yang mau bercerita? Ya silakan…
….
Bagaimana?

Gojek 1: Tadi pertanyaannya apa ya pak? *hadirin tertawa* Tuh kan pada ketawa tadi pada serius kan?

Moderator: Perbedaan antara gojek dan ojek, apa saja persyaratan, perekrutan?

Gojek 1: Perkenalkan dulu nama saya Abil. Kalau persyaratan sih pertama itu ada SIM C, trus KTP, KK, fotokopi STNK. Itu persyaratannya pak

Moderator: Lalu ketika diterima apa saja sih yang membedakan gojek dengan ojek konvensional, lalu apa yang membuat bapak lebih memilih gojek daripada ojek konvensional itu sendiri?

Gojek 1 : Begini pak sebenarnya sih kita sama aja ya. Contoh kita dari sini mau ke Kampung Melayu. Tujuannya sama pak mau cari uang, tapi jalurnya beda. Saya musti lewat Cibinong dulu, ada yang lewat Dewi Sartika kan intinya sama pak, sama-sama nyari uang. Bedanya kalau di gojek itu misalnya ada order yang buat nganter barang. Customer itu lebih yakin pada drivernya karena driver ada jaminan yang dititipkan, jadi tidak perlu customer takut untuk nganterin laptop, nganterin ini itu. Karena disitu kan juga ada feedbacknya di kolom customer. Oh pelayanannya bagus, oh ojeknya ugal-ugalnya. Itu nanti diproses oleh orang pusat.

Moderator: Tepuk tangan dulu dong buat pak Abil. Ada yang mau menambahkan lagi? Ya silakan ibu

Gojek 2: Assalamualaikum Wr. Wb. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Perkenalkan nama saya Hadini, panggilan Ibu Dini. Pernah meneliti dan menulis tentang transportasi massal itu penting dan urgent, menjadi pembicara di media sosial, saya ke pak Jokowi dan pak Prabowo. Alhalmudillah solusi saya saat itu dipakai untuk kereta api saat ini. Saya tidak memasukan unsur apapun, murni hasil penelitian. Kebetulan saya juga lulusan UI. Fakultas Ilmu Budaya. Saya spesialisasi di bidang informasi, pustakawan juga, guru juga, driver juga. Jadi mohon maaf saya menambahkan rekan saya, perbedaan antara ojek konvesional dengan ojek online. Mungkin maaf mohon diralat sebenarnya ada banyak selain gojek ada grabbike, ada blujek, banyak sekali. Kebetulan antara konvensional dengan online tadi hampir sama, pakai hp juga. Saya di Bogor merekrut ojek-ojek juga, kita mencari rezeki yang sama, kita juga permisi-permisi dengan yang sudah lama. Ya kita istilahnya kue itu kalau ojek pangkalan baru bisa 1/8, sisanya ini ojek online yang bisa membantu. Makanya rezekinya bertambah. Karena dengan teknologi rezeki bertambah, sosial ekonomi bertambah. Mengapa seperti itu? Saya lihat dari faktor ekonomi masyarakat kita mungkin stagnan. Tapi dengan adanya gofood goshopping, mereka yang daya belinya tinggi itu ada perputaran, tidak terganggu dengan transportasi yang stagnan. Dan saya setuju dengan Ibu Ellen bahwa ojek maupun gojek adalah transportasi saat ini sampai nanti pemerintah mampu menyediakan transportasi massal yang lebih akomodatif yang saat ini banyak berkurang. Mungkin demikian tambahan dari saya, sekian dan terima kasih

Moderator: Ya baik terima kasih sudah cukup baik tanggapan dari gojek, mungkin suatu saat nanti saya juga mau dong naik ojek sarjana begitu kan. *terdiam lama* Saya jadi lupa kan mau ngomong apa tadi. Oh ya bang Ditha tadi kan ada gofood, goshopping.
Lalu saya mau klarifikasi ya mengenai ojek pangkalan duduk di sebelah kanan dan gojek duduk di sebelah kiri. Tidak ada intensi apapun dari panitia untuk mengarahkan samasekali.
Lanjut, saya ingin memberi kesempatan bagi perwakilan dari media, mungkin ada yang ingin bertanya atau berpendapat disini. Kita berikan kesempatan bagi pihak dari media yang ingin bertanya, silakan. Tidak ada? Ya silakan ibu, sebutkan nama dan dari medianya. Yang diatas bapak juga silakan pak.

Pihak Pers Suara Mahasiswa UI: Saya ingin bertanya tentang begini. Kabarnya driver gojek itu banyak juga yang menggunakan kecurangan pada aplikasi, misalnya drivernya itu bertindak sebagai pembeli juga sebagai pengendara dan penumpang juga begitu. Yang ingin saya tanyakan bagaimana bisa terjadi seperti itu, dan apakah gojek bisa mendeteksi kecurangan order. Lalu juga bagaimana dengan privasi dan perlindungan konsumen. Soalnya saya pernah denger dari teman juga setelah menggunakan gojek, ada driver gojek yang mengirimkan sms mau ngajak kenalan. *tertawa*
Lalu saya ingin bertanya bagaimana server gojek dengan traffic pada aplikasi gojek. Soalnya yang saya denger dari temen juga ada yang susah untuk order, creditnya susah dipakai untuk order, lalu bagaimana sistem sekuritas bagi konsumen dan pengemudi? Yaudah itu aja

Moderator: Okee, yaudah itu aja tapi yaudahnya banyak banget ya. Sayang sekali kita tidak ada pihak dari gojeknya sendiri ya, mungkin dari driver ada yang mau klarifikasi sedikit atau banyak hal. Soalnya tadi yang ditanyakan kebanyakan isu ya denger dari temen isu ini dsb. Mungkin dari driver gojek ada yang bisa meluruskan?

Gojek 3: Baik terima kasih untuk waktunya. Nama saya Budi. Disini saya bicara bukan berarti saya utusan dari PT Gojek karena saya disini bukan karyawan gojek, disini kita sebagai mitra usaha dan bukan karyawan gojek, begitu. Jadi untuk masalah internal kita sendiri, untuk masalah jarak tempuh kita terapkan aturan minimal 6km dan maksimal 25km. Itu aturan main dalam gojek. Dan untuk tarif per tanggal 16 september ini ada perubahan per km semula 400, sekarang per km 2500. Itu diberlakukan untuk orang, diluar paket barangm, gofood, goshopping. Nah itu untuk masalah tarif.
Berikutnya untuk personil kita yang tergabung dalam gojek sudah mendapatkan pelatihan dari private test drive, itu di Pondok Cabe. Dan itu kuotanya antara 100-150 per sesi dan dilakukan bertahap, nggak mungkin sehari langsung semua sekaligus. Itu sudah dilakukan. Mereka yang sudah bergabung akan mendapatkan sertifikat, yang kemudian ditempelkan dibelakang jaket kita. Tapi memang belum semua. Mengenai mekanismenya diserahkan kepada gojek yang akan diberikan secara individu kepada driver. Untuk penerimaan driver terutama motor intinya layak pakai mau dari tahun berapapun. Dan yang bersangkutan harus memenuhi kategori seperti STNK dan SIM posisi hidup. Tujuannya apa kalau kecelakaan itu yang dilihat hanya 2 yaitu STNK dan SIM. Itu kalau kita mau klaim ke Jasa Raharja. Dan untuk asuransi yang diberikan PT Gojek per tanggal 2 September sudah bekerja sama dengan asuransi Allianz. Itu kisaran 5-10 juta diberikan untuk customer, selama customer pesan melalui aplikasi gojek. Dari permasalahan-permasalahan yang ada kita terus belajar.
Saya disini sebagai personil untuk wilayah Condet. Saya sudah mengkoordinir sekitar 120 orang mencakup kelurahan Kampung Gedok, Kampung Tengah, Condet. Dan untuk wilayah UI sudah saya ultimatum dari lama. Saya punya temen kalau mau masuk wilayah UI tolong ditanyakan kembali sama customer kalau kita nggak bisa memasuki wilayah UI. Itu inisiatif saya terhadap temen-temen. Kecuali kalau kita punya order kirim barang atau kirim makanan itu diizinkan masuk kan ya? Kalau tidak diizinkan kita minta customer suruh jemput di pangkalan depan. Kalau ngojek orang saya suruh berhenti di pangkalan depan, atau di gang Kober Margonda, biar mereka jalan kaki. Itu yang biasa saya lakukan bersama teman-teman Condet. Kita ada posko didepan Asrama Rinda, itu kita punya basecamp. Jadi untuk temen-temen saya jamin Insya Allah aman untuk masuk wilayah Condet.
Untuk masalah aplikasi yang ada komplain, kita akan melakukan suspend atau pemblokiran order. Termasuk apabila kedapatan STNK mati atau SIM mati itu akan disuspend, tidak akan diberikan order sampai surat tersebut diperbarui.
Untuk aplikasi customer itu kan pembayarannya ada 2, ada yang cash ada yang credits. Kalau yang credits itu akan dikembalikan sampai nominal digitnya semula, tapi itupun harus ke call center customer nggak bisa ke kita, dan itu pun ada catatannya semua. Kita sudah kedapatan 60 orang itu semua kita sikat karena di gojek ini kita menjalankan bisnis kepercayaan, bisnis kejujuran. Dari aplikasi disitulah rezeki kita masuk, semuanya lewat online. Tapi siapapun yang melakukan kebohongan akan terbongkar dengan sendirinya. Termasuk personil kita yang nyambi-nyambi kerja sambil gojek itu ada beberapa. Termasuk ada 3 orang saya sendiri yang lacak, itu pemain. Jadi mereka bikin laporan order-oder fiktif eh mereka sendiri yang ngambil, itu sudah 3 orang saya dapetin. Saya panggil, hp nya saya sambil, saya omongin. Itu belum sampai ke kantor, itu masih internal. Karena itu sudah menjelekkan kita punya cerita, terutama kita yang sekarang sudah fokus full di gojek, termasuk saya. Saya aslinya dari sekuriti pak bu. Sekuriti di RS Tarana. Awalnya saya nyambi di bulan pertama bulan kedua. Setelah saya merasakan hasilnya kok lebih enak gojek? Biasanya malam saya jaga siangnya saya ngojek di pangkalan. Saya lihat hasilnya ternyata lebih bagus gojek. Akhirnya bulan ketiga saya resign dari sekutirit dan sekarang full fokus di gojek. Jadi urusan apapun yang terjadi saya akan turun dulu, itu komitmen saya. Mungkin demikian yang bisa sampaikan kepada teman-teman disini. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Moderator: Ya terima kasih kepada mitra usaha gojek tadi, kasih tepuk tangan dulu dong kepada Bapak Budi. Mungkin tadi sedikit terjawab permaslahan mengenai gojek itu sendiri. Ternyata ada pegnawasan internal didalam tubuh gojek itu sendiri, bukan hanya dari manajemen tapi juga dari driver-driver itu sendiri ya.

Moderator: Memberikan kesempatan kepada audiens untuk bertanya.

Budiyanto Aktivis Pangkalan Ojek Tebet: Saya aktivis kemanusiaan dan memiliki siap untuk mendukung GoJek juga, dan Ojek Pangkalan juga. Jangan sampai ada gesekan-gesekan terjadi pada hari ini seperti yang terjadi di masyarakat. Masalahnya adalah kurang bicara heart to heart, harusnya itu ada kopi dan rokok kalo ngobrol. Saya memberikan sosialisasi ke pangkalan ojek tebet itu pake uang pribadi, karena gak semuanya itu paham akan teknologi., Ojek pangkalan itu lihat HP aja kabur. Bener kata pak mulyono, kita itu harus berbagi..berbagi rezeki. Saya pernah di bekasi di jegat, cuman saya bilang “bang saya kesini numpang lewat doang” , dan pada akhirnya ngopi bareng juga tuh. Nah sekarang masalahnya kenapa ada bentrokan di masyarakat? Semua itu karena etika. Masyarakat Indonesia terkenal dengan ramah tamahnya, tapi kenapa bisa jadi gini? . Maka dari itu harus duduk bareng dan mengerahkan tokoh masyarakat setempat, ini saya kalo liat Gojek Maaf2 aja nih . banyak yang atributnya dijual. Saya mohon aturan-aturan hukumnya diperjelas pak, dipertegas, jangan baru menjadi gunung es baru dibuat aturan. Itu gak baik. Jadi saya mohon ke Pemerintah jangan udah Gejolak baru turun. Saran saya harus disosialisasikan, bahwa kita itu bersaudara.

Moderator: kita persilahkan untuk yang diatas terlebih dahulu.

Fasilkom UI : Saya punya beberapa point dari perbincangan kita tadi. Pertama, soal regulasi memang sudah diketahui bahwa kendaraan roda dua tidak bisa digunakan sebagai angkutan umum berbayar, namun kemudian masalahnya sekarang sudah menjadi besar dan masalah persaingan harga, dan persaingan antara Gojek dan Ojek Konvensional dan ojek pangkalan. Saya menyarankan untuk bagaimana kalo dibuat regulasi tarif dasar seperti taksi, ada tarif atas ada tarif bawah. Mungkin bisa di pertimbangkan konsepnya seperti itu. Kedua, saya cukup tersentil pertanyaan pak mulyadi tadi, ketika bapak bilang mengedepankan etika ketimbang bisnis, sebenernya saya bingung standar etika apa yang dimaksut oleh bapak? Karena jujur saja saya sebagai pengguna Gojek dan Ojek saya tidak pernah mendapatkan itikad baik, hanya saja dalam ojek pangkalan saya sering tidak diberikan helm ketika di UI atau di ojek pangkalan yang lain. Ketiga, apakah sebenernya ada pool resmi untuk GoJek, dimana disatu titik mereka berkumpul untuk sekadar ngopi2 . Keempat, saya mau tanya tentang penipuan yang dilakukan oleh oknum Gojek, lalu bagaimana cara perusahaan Gojek menanganinya? Terkait tentang privasi user misalnya.

Moderator: kita langsung saja berikan ke pak mulyadi bisa memberikan sedikit penjelasan.

Bapak Mulyadi: Jadi yang saya maksut etika itu lebih ditujukan kepada perusahaanya, bukan ke personelnya. Yang artinya lebih mengedepankan bisnis ketimbang etika, artinya disuatu daerah dimana ada pangkalan ojek yang ojek nge tem pagi sampe sore, tiba tiba memberikan aplikasi kepada personel Gojek tersebut untuk mengambil pelanggan. Untuk dilapangan, kita juga udah sering memberikan pembinaan dengan bekerjasama dengan BEM dan PLK untuk membentuk paguyuban agar lebih mudah komunikasinya dan mengawasinya. Terkait tentang harga kita juga sudah berkomunikasi dengan BEM bahwa kita mematok harga 8.000 rupiah.

Moderator: menarik untuk dikaji mengenai standar harga, bagaimana cara membentuk standar harga untuk Ojek itu sendiri?

Ditha Wiradiputra, S.H., M.E: Untuk standar penentuan harga bagi ojek konvensional itu tidak mudah, karena sangat dipengaruhi oleh posisi tawar menawar. Bisa mahal, bisa kurang. Kalo menggunakan teknologi pentuan harga jauh lebih simple, karena bisa diestimasi jaraknya berapa, waktunya berapa, jalurnya kemana. Untuk masalah demikian memang tidak dibuat aturannya secara tertulis, akan tetapi hal-hal demikian seperti kebiasan yang hidup di masyarakat juga harus diperhatikan juga. Memperhantikan kondisi ini seharusnya pemerintah tidak tinggal diam, dalam aturan belum ada makanya harus diatur. Jangan sampai udah ada korban, tidak diatur2 juga dan yang lebih sangat disayangkan adalah kita sama-sama dirugikan, lalu yang untung siapa ya yang punya perusahaan… Ngadem aja.. Memang terus terang ojek konvensional itu ada nyata, kadang kadang gak bisa tergantikan oleh moda transportasi yang lain, kalo kita kepepet.. kalo kita meeting, gak bisa tuh alat transportasi yang lain. Mau kereta, mau pesawat, mau mobil, mau taksi. Gak ketolong satu-satunya ya ojek, bisa jadi pertaruhan nyawa. Pemerintah harus bertindak agar baik Ojek dan Gojek keduanya bisa sama-sama hidup, jangan mau bergerak ketika ada sponsornya aja, jadi harus diatur pasarnya, standar harga. Jangankan Gojek dan Ojek pangkalan, advokat aja gak boleh tuh rebutan client. Jangan sampai kayak MLM dah, baru pas awal-awal menguntungkan pas layer-layer berikutnya justru merugi dan habis gak ada sisanya.

Moderator: Lalu bagaimana sih transportasi yang ideal itu di Indonesia, dan di Jakarta? Sehingga baik konsumen dan pemegang jasa sama-sama untung dan cepat.

Ir. Ellen S.W. Tangkudung: Yang paling ideal adalah, aman dan nyaman dan dapat diandalkan, kita bisa dapet transportasi yang diinginkan, dan kita bisa mentracey waktu perjalanan seperti apa, dan bisa dihitung berapa harganya. Sekarang ini banyak sekali jenis-jenis moda transportasi, semua dikembalikan memilih dan dipilihnya. Di beberapa tempat ada masyarakat yang tidak bisa memilih, karena memang ketersediaannya terbatas. Tapi kalo jakarta, banyak yang bisa dipilih bahkan yang memilih transportasi pribadi itu adalah pilihan. Sekarang yang diharapkan masyarakat beralih, dari moda transportasi pribadi menjadi transportasi umum, agar dapat menghindari kemacetan. Ada sebuah pertanyaan, kalo misalnya transportasi umum sudah baik apakah masyarakat dapat beralihdan macet bisa dapat terurai? Jawabannya belum tentu.
Persoalan transportasi akan dapat teratasi apabila bisa memenuhi dari ekspetasi masyarakat. Hal yang penting bukan hanya mengenai kesediannya, tetapi juga orang bisa memobilasi dan bisa bergerak. Melalui kebutuhan ini orang dapat bermobilisasi dan memenuhi kebutuhan sosial ekonominya karena pada dasarnya transportasi bukanlah kebutuhan primer melainkan kebutuhan pendukung. Karena kebutuhan turunan dari ekonomi dan sosial. Jarang orang bertransportasi tanpa tujuan.
Angkutan umum yang ideal belum dipenuhi oleh pemerintah seakan – akan diam saja. Sudah ada tetapi roda dua belum jadi kendaraan umum tetapi pemerintah saat ini tetap diam saja, karena kalau pemerintah mengatakan sesuatu ada resikonya. Pasti ditanya, kalo ga boleh terus apa? Gojek aplikasi dan sebagainya adalah solusi transportasi, walaupun kenyaman dan keamanan lebih rendah. Dengan KRL lebih enak, kalo dari Bogor ke Jakarta lebih enak, pilihannya ada pada penumpang, tetapi aturan bisa diterapkan, hal yang paling penting adalah keselamatan.
Saya baru dari Jepang dan melihat presentasi pada tahun 2005 ada kecelakaan kereta yang menyebabkan ratusan orang meninggal kereta seperti KRL. Penyebabnya kelailainya karena kecepatan yang tidak sesuai. Solusinya adalah regulasi dari pemerintah , apabila kecepatan terlalu tinggi maka nantinya ada teknologi yang secara otomatis ketika kereta terlalu cepat maka akan membuat penurunan sendiri. Hal itu diterapkan dalam regulasi oleh pemerintah. Ketika pemerintah tau penyebabnya adalah sepeda motor, maka seharusnya ada regulasi dari kecelakaan itu, terserah oleh pemerintah bagaimana, seperti di Jepang saat kasus kecelakaan di Jepang. Bukan hanya melarang tetapi juga memberikan solusi.
Solusi persaingan misalnya, Aplikasi dan perkembangan teknologi pasti akan ada. Dahulu seperti HP baru muncul, orang tidak berpikiran untuk HP hanya pada telepon biasa. Akan tetapi hari ini ketika adanya HP, telepon malah ditinggal. Karena itu ketika saat ini ada aplikasi yang menolong, bisa ditolong dengan fasilitas dari pemerintah , seperti bajaj yang sudah juga memberikan aplikasi online dan mendukung , tetapi juga tidak menolong.
Ketika naik ojek, saya tidak ada standar harga, posisi tawar menawar itu terjadi di ojek, kalo di gojek dengan promosi menjadi sangat murah harus dilihat ada apa, siapa yang berada di belakang itu. Tetapi negara juga harus bertindak. Kalaupun tidak promosi lagi itu menjadi pilihan, objek itu tidak ada lagi pilihan, jika dinyatakan nyaman aman, tetapi itu menjadikan orang memilih, maka berdasarkan turunan kita masing – masing promosi. Saya juga bisa memilih pilihan dan itu adalah hak asasi.

Moderator: Pada akhirnya kita ingin memberikan transportasi aman dan nyaman dan ada tiga pertanyaan.

Penanya 1: Saya berterimakasih kepada acara ini yang mempertemukan antara para ahli, pihak gojek , dan juga pembicara yang ada. Karena saya percaya yang dapat menyelesaikan masalah adalah komunikasi. Gojek dan mahasiswa UI terima kasih. Saya juga ingin memberitahukan sekilas info tentang sejarah gojek , karena ojek UI ini pada awalnya adalah warga kukusan yang tergusur oleh adanya pembangunan UI dan akhirnya UI memberikan kompensasi kepada para warga untuk memberikan kesempatan menjadi ojek di UI. jadi banyak pertimbangan, bukan dibantu sama UI , permasalahnya adalah saat ini saya banyak mendapatkan pandangan negatif mahasiswa UI. Tetapi yang ingin saya tegaskan adalah, kita ini tidak pernah main fisik, kita taat hukum. Andaikan kita habisi dia, maka habis dia. Selama ini security ini aman kok kita tidak pernah diganggu. Kita membantu mahasiswa baru , seperti saya tempo hari kita mindahkan lemari, gojek paling makanan doing kan.
Acara ini saya apresiasi karena yaa seperti “assalamualaikum” lah, temen temen gojek harusnya juga coba ketemu lah sama Pa Mul, tau lah seperti apa enaknya ngobrol sama Pa Mul. Ojek adanya di Indonesia ada di UI. Di Indonesia uniknya adanya di UI. Gojek ketemu dengan Pa Mull ah untuk selesaikan masalah. Ojek ini sejarahnya panjang pak, saya pernah suatu ketika mengantarkan wanita, bukan wanita melainkan kuntilanak ke asrama. Dari stasiun UI ke asrama. UI kan pelit sama lampu dulu, sampai sekarang.
UI tuh zero order, dari dalam ke luar. Inti permasalahnnya tidak macem – macem. Ini supaya ojek tau bahwa UI ini mata air , ketika gojek masuk dari luar, bahkan kita aja belum dapet, kita mau dapet uang dari mana nantinya, tapi ini bukan berarti kita takut tidak mendapatkan rejeki, kita paham bahwa rejeki itu bisa didapatkan darimana saja dan berasal dari Allah.
Ojek UI itu sejarahnya panjang, bahwa Fakultas Ekonomi itu dulu rumah saya. Apalagi UI itu tidak ada pernah masalah dengan ojek, UI itu ibarat orang betawi, daun jatuh aja orang denger, dan selama ini tidak pernah ada masalah dengan ojek UI dan keamanan di UI. Untuk itu menurut saya, gojek bertemu saja dengan Pa Mul, nanti juga masalah selesai. Karena tidak ada penyakit tanpa obatnya. Assalamualaikum

Penanya 2: Saya Agatha konsumen ojek dan gojek, saya juga seorang media. Hal yang menarik adalah adanya sarjana menjadi gojek , mengapa pemerintah tidak menciptakan lapangan pekerjaan, seakan akan menjadikan seluruh rakyat Indonesia untuk menjadi gojek?
Kedua, temen saya seorang wartawan saat ini menjadi gojek dengan penghasilan delapan juga sampai tiga juta. Saat ini adanya konferensi press ada perusahaan baru yaitu blue jack, nah apakah perlu adanya pembatasan terkait itu? Mengingat nantinya akan membuat banyak lagi perusahaan – perusahaan yang akan bermunculan? Saya lihat pangkalan ojek dan gojek dan dari duduknya sudah berbeda, mungkin ga adanya suatu penyelesaian?

Penanya 3: Saya farid dan pengemudi gojek juga. Saya hanya mengkonfirmasi pertanyaan yang belum dijawab. Pertama ada kredit yang belum dibayar, nanti langsung telpon call center saja dan segera diurus. Kedua adanya oknum yang sms dan segala macam langsung telpon ke Satgas atau call center nantinya akan langsung ditindak. Lalu selanjutnya untuk gojek masuk ke UI, saya disini ada hasil dari Satgas untuk mengantar atau mengedrop barang. Hal yang tidak boleh adalah mengambil. Deal ya?
Masalah etika pak, gojek tidak mengedepankan bisnis, tetapi etika juga. Kita juga tidak mengambil di dekat pangkalan ojek. Sejak dibukanya ojek yang baru baru itu tidak bisa semua sosialasikan tetapi kita terus mencoba untuk membuat etika itu tetap ada di driver kita.
Selanjutnya saya berharap kurang begitu setuju bahwa adanya money laundering, jangan tularkan kalimat seperti itu, driver gojek tidak menerima itu dan jangan sampai mengeluarkan kalimat itu. Banyak sekali kejadian seperti di ojek Graha, mungkin saya ingin membuat pertanyaan pada ojek UI itu, bagaimana ketika ojek UI menjadi gojek saja, kan tidak ada salahnya ketika ojek UI mangkal sebagai ojek UI dan sesekali menjadi gojek UI. Saya harap ini persetujuan dari Pa Mulyadi dan Gojek UI, maka saya harap ini dapat ditaati dari ojek UI dan tidak ada lagi kasus kekerasan yang terjadi.

Closing Statement
Bapak Mulyadi: Masalah ketika bergabung dengan gojek, kita punya pangkalan ada cerita tersendiri dari dari awal dan membangun sampai saat ini dan sangat sayang untuk meninggalkan. Waktu itu awalnya ada kasus dari gojek yang melanggar kesepakatan, tetapi karena takut, maka yang datang adalah Satgas, dan saya bilang ketika itu saya sedang sibuk dan di lain hari kita duduk bareng ternyata mereka datang dan pada akhirnya kita ngopi dan ngeroko bareng. Saat ini menjadi teman. Mereka mau masuk , silahkan, kita tidak ingin mencari musuh dan ingin mencari saudara bahkan.
Ditha Wiradiputra, S.H., M.E: Apabila ini menjadi sebuah regulasi itu soal nanti, tetapi yang pasti para driver ini haruslah saling berempati, ojek pangkalan harus saling menghargai dan berempati satu sama lain. Sebelum peraturan ada, saling berempati, ngobrol dan tidak ada hal yang tidak bisa diselesaikan. Namun, kita mengerti saat ini kondisi sedang sudah , tetapi saya percaya, dimana ada pangkalan bahkan di Mall pun, ada aturan main yang harus ditaati.
Ir. Ellen S.W. Tangkudung : Terima kasih, closing statement, pelayanan dalam service, konsumen selalu benar, dan berikan layanan terbaik kepada konsumen. Layanan terbaik dalam transportasi juga diberikan oleh pemerintah. Jika saat ini belum diatur maka pemerintah harus hadir dan ini bukan akhir dari persaingan dan ini bukan akhir karena sudah ada sepuluh ojek . Untuk itu harus adanya regulasi dan mohon maaf apabila adanya hal – hal yang tidak sesuai yang saya sampaikan.

Moderator : Terakhir, saya tidak melihat ini sebagai sebagai sebuah permasalahan ataupun sebuah pertengkaran. Akan tetapi ini adalah sebuah persaingan yang akan dapat terjadi dimana saja seperti pada mini market ataupun tiket pesawat. Kesimpulan dari talkshow hari ini terdapat tiga kata kunci yang dapat menyelesaikan hal ini, Bagaimana caranya menyelesaikan konflik ini, pertama adalah komunikasi, kedua adalah kopi dan ketiga adalah empati. Dengan ini saya undur diri, Saya Rico Novianto FHUI 2013, Wassalamualaikum Wr Wb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *